/>“Kami melihat dunia dengan cara lain, menghayati dan mengalami dunia dengan cara yang sama sekali lain, namun itu tiada berarti kita harus tetap selalu saling mengerti – bila tubuh dan otak kami tiada mampu berbahasa, tidaklah berarti kami tiada berjiwa dan berhati sama sekali.
Bukankah sudah berkali-kali kukatakan betapa cinta telah menghidupkan kami…..(hlm. 197)”
Tulisan diatas adalah percakapan imajiner seorang anak tuna daksa dengan dirinya sendiri yang coba ditangkap oleh Seno Gumira Ajidarma dalam novel karangannya (Biola tak Berdawai). Ungkapan hati tersebut coba menggambarkan bahwa anak tuna daksa juga ”seseorang” bukan ”sesuatu.” Mereka memiliki perasaan dan pikiran yang tidak terselami oleh orang-orang yang merasa dirinya normal. Hanya cinta dan perhatian dari kita yang bisa menjadi bahasa sederhana yang bisa dimengerti mereka. Cinta dan perhatian tanpa syarat menjadi alat untuk berkomunikasi dengan mereka.
Bagian ini semakin mengingatkan saya tentang satu hal yang kadang kita anggap kurang penting. Bagian itu adalah memahami orang lain bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri. Seringkali kita terjebak dengan perangkat atau nilai-nilai yang ada pada diri kita untuk memahami dan menilai seseorang, akibatnya dengan mudah kita menghakimi orang dengan sudut pandang kita yang sempit. Stigma ”aneh” atau ”tidak normal” dengan gampang sekali kita keluarkan untuk menghakimi saudara kita, tanpa mau memahami kondisi saudara kita sebenarnya. Kita terlalu asyik dengan ”kondisi normal” yang ada dalam diri kita sendiri tanpa mau berusaha memahami apa yang menjadi beban saudara kita.
Keberhasilan kita tidak diukur hanya dengan prestasi yang kita capai dari ambisi pribadi, melainkan dengan kepedulian kita terhadap sesama pada saat kita berproses mencapai tujuan hidup kita. Menjadi orang peduli tidak berarti kita harus menunggu sampai kita ber-ada dan memiliki kekuasaan. Menjadi orang peduli adalah memberikan hati kita dan belajar memahami apa yang menjadi beban saudara kita. Menjadi orang peduli selalu diawali dengan kata …”apa yang bisa aku bantu untuk meringankan bebanmu, saudaraku?” bukan dengan kata-kata pongah dan menyudutkan. Menjadi orang peduli bukan berarti kalau kita ada waktu, yakinlah waktu sebenarnya tak akan habis apabila kita mau peduli terhadap sesama karena itulah yang aku yakini menjadi tujuan hidup kita di dunia.
Selamat datang di rumah kedua saya,
