30
Sep
10

MARI CERMATI BUNGA PINJAMAN KITA

Pinjam uang untuk mencicil KPR atau beli mobil dan kebutuhan lainnya, acapkali kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tadi. Namun, sebelum memutuskan untuk pinjam uang di bank dan lembaga keuangan lainnya (leasing, dll) perlu kita perhatikan bunga yang ditawarkan oleh lembaga keuangan tersebut karena akan menentukan besarnya uang yang akan kita cicil tiap bulan nantinya. Harapannya jangan sampai kita terjebak dalam menentukan pilihan saat berutang dengan iming-iming bunga rendah yang kenyataannya tidak demikian. Bunga pinjaman yang ditawarkan oleh bank dan lembaga keuangan biasanya adalah bunga flat dan bukan bunga efektif karena sekilas bunga flat terkesan bunganya rendah. Lho..memang apa sih bedanya antara bunga flat dan bunga efekif…..terus ada juga istilah anuitas….apalagi itu dan bagaimana perhitungannya ? Mari kita lihat satu persatu dan cermati apa sih perbedaan atas masing-masing metode perhitungan bunga tersebut.
Saat ini kita mengenal ada dua metode perhitungan bunga, yaitu efektif dan flat. Walaupun dalam kenyataan sehari-hari kita lebih banyak menggunakan metode anuitas yang merupakan modifikasi dari metode perhitungan bunga efektif. Cicilan perbulan biasanya terdiri dari komponen bunga dan pokok yang harus kita bayarkan. Dalam perhitungan bunga efektif biasanya besarnya bunga dan cicilan tiap bulannya berbeda, dimana pada awal periode lebih besar daripada akhir periode. Sedangkan dalam metode perhitungan bunga flat, bunga dan cicilan tiap bulan hingga akhir pelunasan besarnya adalah sama. Dalam metode anuitas sendiri besarnya cicilan tiap bulannya sama, namun besarnya bunga dan pokok yang harus dibayarkan tiap bulannya berbeda. Ada baiknya untuk memudahkan pemahaman, maka kita akan menggunakan suatu ilustrasi perhitungan sebagai berikut :
Tuan B mengajukan kredit untuk membeli motor seharga Rp 12 juta dan kita asumsikan nilai pinjaman yang diajukan juga sebesar Rp 12 juta. Jangka waktu pelunasan adalah 12 bulan dengan tingkat bunga 10% . Tuan B berniat membayar pokok pinjaman sebesar Rp 1 jt per bulan sampai pinjaman tersebut lunas.

Ringkasnya adalah sebagai berikut :
> Saldo Pinjaman (SP)   : Rp 12 juta
> Jangka waktu (t)          : 1 tahun (12 bulan)
> Tingkat bunga (i)         : 10% per tahun

Selanjutnya kita akan melakukan perhitungan dengan 3 metode perhitungan bunga diatas

Metode Bunga Efektif
Metode ini menghitung bunga yang harus dibayar setiap bulan sesuai dengan saldo pokok pinjaman bulan sebelumnya.
Rumus bunga efektif :

rumus bunga efektif

Dari ilustrasi perhitungan Tuan B diatas, maka dapat kita lihat hasil perhitungannya dalam tabel bunga efektif dibawah ini

tabel perhitungan bunga efektif

Metode Flat
Dalam metode ini, perhitungan bunga selalu menghasilkan nilai bunga yang sama setiap bulan,
karena bunga dihitung dari prosentasi bunga dikalikan pokok pinjaman awal.
Rumus perhitungannya adalah :

rumus bunga flat

Perlu diperhatikan untuk perhitungan bunga dalam metode flat kita menggunakan bunga (i) sebesar 5.37% bukan 10%. Tampak bahwa bunga flat besarnya +/- 2 kali dari bunga efektif dan langkah paling mudah untuk mengetahui apakah jenis bunga yang ditawarkan oleh bank dan lembaga keuangan lainnya flat atau efektif langkahnya cukup mudah yaitu, bertanya ke pihak bank dan lembaga keuangan tersebut tentang jenis bunganya…
Dari ilustrasi perhitungan Tuan B diatas, maka dapat kita lihat hasil perhitungannya dalam tabel bunga flat dibawah ini

tabel perhitungan flat

Metode Anuitas
Merupakan modifikasi dari metode efektif. Metode ini mengatur jumlah angsuran pokok dan bunga yang dibayar agar sama setiap bulan.
Rumus perhitungannya sama dengan bunga efektif dengan syarat Cicilan per bulan besarnya harus sama sampai dengan akhir pelunasan. Untuk memudahkan perhitungan anuitas, kita bisa menggunakan aplikasi Microsoft excel dengan Function “PMT” sebagai berikut :
Langkah 1.
Masuk dalam menu excel kemudian tekan tombol function (fx) dan pilih fungsi “PMT”. Selanjutnya akan muncul tampilan di layar monitor kita sebagai berikut :

Langkah 1

Langkah 2
Setelah kita pilih fungsi “PMT” akan muncul tampilan yang harus kita isi sebagai berikut dari data yang kita miliki

Langkah 2

Langkah 3
Selanjutnya masukkan data yang kita miliki ke dalam tampilan tadi. Perhatikan gambar dibawah ini :

Langkah 3

Hasil dari perhitungan anuitas diatas untuk cicilan yang harus kita bayarkan melalui fungsi “PMT”tiap bulannya sebesar Rp 1.054.991, yang terdiri dari komponen bunga dan komponen pokok. Untuk lebih detailnya kita bisa melihat dalam tabel perhitungan anuitas berikut ini :

tabel perhitungan anuitas

Dari tabel perhitungan anuitas tersebut dapat kita ketahui bahwa pada periode awal jumlah cicilan yang kita bayarkan sebagian besar diserap untuk membayar bunga sedangkan pokok yang harus kita bayarkan kecil. Selanjutnya pada akhir periode, sebagian besar cicilan yang kita bayarkan untuk membayar pokok. Apabila diilustrasikan pembagian porsi pembayaran cicilan dari awal hingga akhir periode adalah sebagai berikut :

ilustrasi bunga dan pokok_anuitas

Kondisi ini tentu akan membuat kita yang melakukan pelunasan dini atau membayar lebih besar atas cicilan kita diawal periode hanya lebih banyak terserap untuk membayar komponen bunganya saja daripada pokok pinjaman. Artinya cicilan yang kita bayarkan tiap bulan nantinya tidak banyak berubah karena prinsip anuitas dalam menghitung bunga sama dengan bunga efektif, yaitu dari saldo pokok pinjaman bulan sebelumnya.

Oleh karena itu, yang perlu kita perhatikan dari semua tawaran pinjaman dari bank dan lembaga keuangan lainnya terkait dengan bunga pinjaman seperti yang disampaikan oleh Bank Indonesia dalam web resminya (www.bi.go.id) adalah sebagai berikut :
1. Dalam menetapkan suku bunga kredit, banyak bank menggunakan metode flat, sehingga suku bunga terkesan lebih rendah. Untuk itu, Anda perlu menanyakan ke bank berapa sebenarnya suku bunga efektif yang diterapkan sebelum memutuskan untuk mengajukan kredit.

2. Jika Anda sedang membandingkan suku bunga antar bank, pastikan bahwa Anda mengetahui metode perhitungan bunga yang diterapkan oleh bank.

3. Untuk menghitung saldo pokok pinjaman, bank biasanya menggunakan metode efektif. Jadi, pada saat mengajukan kredit, Anda perlu menanyakan apakah akan ada penyesuaian terhadap perbedaan saldo pinjaman yang menggunakan bunga efektif dengan yang menggunakan bunga flat jika Anda ingin melakukan pelunasan pinjaman lebih dini sebelum jangka waktu pinjaman berakhir.

4. Mintalah jadwal dan komposisi perhitungan bunga dan angsuran pokok pinjaman lebih dini sebelum jangka waktu pinjaman berakhir.

5. Pastikan bahwa Anda mengetahui sifat suku bunga yang dikenakan bank, floating (mengambang) atau fixed (tetap). Jika suku bunga bersifat mengambang, maka apabila terjadi kenaikan suku bunga, biaya bunga dan angsuran pokok pinjaman akan ikut naik dan sebaliknya jika suku bunga turun.

20
Sep
10

PEGADAIAN DI TENGAH PERUBAHAN LINGKUNGAN BISNIS

Sebagian besar masyarakat di Indonesia tentu sudah akrab dengan jasa gadai yang dimiliki oleh PERUM Pegadaian. Biaya bunga pinjaman yang rendah dan proses pencairan uang yang cepat menjadikan Pegadaian sebagai pilihan utama masyarakat untuk memperoleh dana tunai. Biaya bunga kredit yang hanya berkisar 1.75% – 2.5 % per bulan tentu lebih kecil dibandingkan apabila masyarakat meminjam ke bank. Bunga bank sendiri saat ini bisa mencapai 3.25-3.75 % per bulannya. Apalagi jika meminjam ke rentenir yang mengenakan bunga pinjaman yang jauh lebih besar dari total pinjaman itu sendiri. Selain itu, proses permintaan kredit untuk mendapatkan dana tunai di Pegadaian bisa dilayani dalam waktu 15 menit tanpa proses yang bertele-tele seperti di lembaga keuangan lainnya. Menurut Direktur Utama Perum Pegadaian, Chandra Purnama, bahwa semua kelebihan tersebut sejalan dengan misi Pegadaian yaitu membuat orang senang, bukan sekedar membuat bisnis serta slogan Pegadaian yang berbunyi “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”. Dalam salah satu wawancara dengan media massa diluar negeri, Chandra Purnama berbagi cerita bahwa dia pernah melihat sendiri seorang ibu yang membawa rantang datang ke Pegadaian untuk mendapatkan uang pinjaman sebesar Rp 30 ribu dengan menjaminkan rantangnya dengan nilai taksiran Rp 50 ribu. Bayangkan jika ibu ini meminjam uang ke rentenir yang akan mengenakan bunga pinjaman yang tinggi atas pinjamannya. Kondisi inilah yang membuat Pegadaian memiliki keunikan tersendiri dalam usahanya dan menjadikan Pegadaian begitu dekat dengan masyarakat.
Pegadaian saat ini telah berkembang pesat sebagai lembaga di bidang keuangan yang memiliki visi dan misi bagaimana masyarakat mendapatkan perlakuan dan kesempatan yang adil dalam perekonomian. Sampai dengan sekarang, Pegadaian telah memiliki +/- 4.750 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total aset sebesar +/- Rp 17 triliun. Hal ini telah mendorong laba bersih Pegadaian semester pertama tahun 2010 naik 42.9% menjadi Rp 591.3 juta dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2009 yang hanya sebesar Rp 413.7 juta. Bahkan dari data akhir menyebutkan bahwa Pegadaian telah menjadi penyalur terbesar Kredit Usaha Mikro dan Kecil (KUMK) diantara 20 bank dan 2 lembaga keuangan pelaksana dengan total kredit yang disalurkan oleh Pegadaian sebesar Rp 1.14 triliun. Semua prestasi yang telah diraih Pegadaian hingga saat ini menempuh perjalanan yang panjang sejak pertama kali di dirikan pada tahun 1901 di Sukabumi, Jawa Barat. Kunci keberhasilan Pegadaian adalah kemampuan beradaptasi melalui diversifikasi produk terhadap lingkungan bisnis yang terus berkembang sejalan dengan salah satu misi mereka ikut membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah melalui kegiatan utama berupa penyaluran kredit gadai dan usaha lain yang menguntungkan.
Produk gadai konvensional merupakan produk utama yang menjadi andalan dari Pegadaian. Melalui produk ini diharapkan dapat membantu rakyat kecil yang tidak memiliki akses ke dalam perbankan sehingga terhindar dari praktek rentenir. Pemberian pinjaman mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 200 juta dengan jaminan berupa benda bergerak, perhiasan, barang elektronik, kendaraan dan alat rumah tangga lainnya. Pinjaman tersebut dapat diangsur dalam pelunasannya dan memiliki jangka waktu maksimum 4 bulan (120 hari) dan dapat diperpanjang dengan membayar sewa modal dan biaya administrasi saja. Biaya sewa modal berkisar antara 1.5% – 2% per bulannya dan biaya administrasi untuk pencairan kredit baru sebesar 1%. Sistem gadai inilah yang membantu masyarakat kelas menengah kebawah untuk memperoleh solusi atas permasalahan kebutuhan dana mendadak yang harus mereka hadapi.
Diversifikasi produk yang dilakukan Pegadaian hingga saat ini menjadikannya mampu untuk terus berkembang. Saat ini Pegadaian tidak hanya identik dengan masyarakat kecil yang mengalami kesulitan keuangan. Pegadaian juga melebarkan sayapnya ke arah pasar modal dengan meluncurkan produk gadai saham pada tahun 2007 untuk menjangkau para investor saham yang memiliki saham-saham unggulan (blue chips) untuk digadaikan. Investor yang membutuhkan dana segar tidak perlu melepaskan saham blue chips yang mereka miliki, mereka cukup menggadaikan sahamnya ke Pegadaian sebagai jaminan. Saham yang digadaikan harus memiliki nilai 2x lipat dari jumlah pinjaman sehingga investor memiliki dana segar untuk berinvetasi di pasar modal untuk membeli saham lainnya. Saham yang digadaikan akan dimutasikan dari rekening Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) ke rekening Pegadaian di lembaga yang sama. Hal ini tentu akan menguntungkan bagi investor di tengah kondisi pasar modal di Indonesia yang terus semakin membaik saat ini karena mereka punya dana segar untuk membeli saham-saham lainnya yang mampu memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingkan bunga pinjaman di Pegadaian. Namun, sebaliknya jika harga saham turun maka investor yang telah menggadaikan sahamnya harus menambah saham yang digadaikan agar tetap bernilai 2x lipat dari pinjaman yang telah diterima.
Diversifikasi produk Pegadaian dengan basis hukum gadai tidak hanya di bidang pasar modal saja, tapi juga menyentuh pada segmen pasar dengan latar belakang kepercayaan tertentu. Gadai syariah adalah produk baru yang diluncurkan Pegadaian di tengah masyarakat yang menjunjung prinsip-prinsip syariah dalam melakukan transaksinya. Peluncuran produk gadai syariah juga diikuti dengan rencana penambahan kantor cabang gadai syariah hingga 500 cabang pada tahun 2010. Kondisi ini yang mendorong peningkatan omzet gadai syariah hingga 70% dibandingkan tahun lalu. Target Pegadaian untuk omzet gadai syariah pada tahun 2010 sendiri sebesar Rp 4.4 triliun. Salah satu produk yang menggunakan prinsip syariah adalah Ar-Rahn. Rahn adalah produk jasa gadai yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah, dimana nasabah hanya dipungut biaya administrasi dan Ijaroh (biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan). Dalam prinsip syariah tidak mengenal konsep bunga pinjaman seperti gadai konvensional, oleh karena itu peminjam dikenakan Ijaroh dengan perhitungan yang berbeda dengan bunga pinjaman gadai konvensional.
Untuk kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga diberikan fasilitas pendanaan oleh Pegadaian melalui produk KREASI (Kredit Angsuran Sistem Fidusia) dan KRASIDA (Kredit Angsuran Sistem Gadai). Kedua produk ini memiliki tujuan sama untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pelunasan kredit untuk kedua produk ini sangat menguntungkan pengusaha kecil karena mereka dapat menentukan jangka waktu peminjaman (12 bulan, 24 bulan atau 36 bulan) dan biaya sewa modal yang murah (0.9% per bulan flat). Selain itu, pelunasan dapat dilakukan dengan cara mengangsur setiap bulan dengan jumlah angsuran tetap dan apabila pelunasan sekaligus dilakukan sewaktu-waktu akan diberikan diskon sewa modal. Fasilitas peminjaman tersebut semakin lengkap dengan persyaratan yang diwajibkan oleh Pegadaian untuk pengajuan pinjaman tersebut hanya agunan, foto copi identitas diri dan surat ijin usaha atau surat keterangan domisili. Pinjaman KREASI mensyaratkan agunan berupa dokumen kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB asli, foto copi STNK, faktur pembelian) dan persyaratan tambahan berupa usaha yang didanai harus sudah berjalan minimal 1 (satu) tahun. Sedangkan pinjaman KRASIDA hanya mensyaratkan agunan berupa perhiasan emas. Semua kemudahan pinjaman untuk kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) akan mendorong para pelaku usaha UMKM untuk mengembangkan usahanya yang telah terbukti memiliki ketahanan dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi.
Produk Pegadaian juga menjangkau hingga kelompok usaha rumah tangga melalui produk KRISTA. Produk ini memiliki keunikan dalam hal agunan yang bukan menjadi persyaratan mutlak. Persyaratan yang diwajibkan adalah kredit ini diberikan kepada kelompok mikro (pedagang kecil/tukang sayur/K5), usaha yang didanai sudah berjalan minimal 6 bulan, menerapkan sistem tanggung renteng pada anggotanya, tidak sedang memiliki hutang modal kerja kepada lembaga keuangan lainnya, domisili yang jelas yang ditunjukkan dengan KTP dan KK. Apabila semua persyaratan diatas sudah terpenuhi, maka pelaku usaha mikro dapat memperoleh kredit KRISTA berupa pinjaman hingga 3 juta rupiah, biaya sewa modal hanya 1% per bulan, angsuran pinjaman tetap dengan jangka waktu hingga 36 bulan. Kemudahan yang diberikan Pegadaian untuk kelompok usaha rumah tangga tentunya sangat membantu mereka yang tidak bisa dilayani oleh lembaga keuangan lainnya karena rumitnya persyaratan administratif yang diwajibkan dan tingginya bunga pinjaman yang harus mereka kembalikan.
Pegadaian juga memberikan fasilitas non-kredit kepada para nasabahnya melalui produk MULIA, KUCICA dan persewaan gedung. MULIA adalah produk investasi logam mulia berupa emas untuk berbagai macam tujuan seperti menabung untuk ibadah haji, mempersiapkan dana pendidikan anak di masa datang, mempersiapkan dana untuk memiliki tempat tinggal dan kendaraan dan mempersiapkan aset yang likuid untuk memenuhi kebutuhan dana yang mendesak lainnya. KUCICA adalah produk pengiriman uang tanpa harus memiliki rekening bank dari dalam dan luar negeri yang bekerjasama dengan Western Union. Produk KUCICA dapat dilayani oleh semua kantor cabang Pegadaian di seluruh Indonesia dengan standard layanan yang berkualitas dalam hal keamanan, operasi dan layanan pelanggan serta biaya yang cukup kompetitif. Produk persewaan gedung adalah produk yang menawarkan persewaan gedung serbaguna untuk keperluan pernikahan, seminar, konferensi dan meeting. Fasilitas persewaan gedung ini hanya dapat dinikmati di Jakarta Pusat, Surakarta (Jawa Tengah) dan Sidoarjo (Jawa Timur).
Semua produk yang dimiliki oleh Pegadaian menunjukkan bahwa Pegadaian sangat peduli dengan kebutuhan masyarakat kecil yang juga diikuti dengan pengembangan internal organisasi Pegadaian. Rencana strategis Pegadaian dalam memperbaiki proses internal sistem IT, diantaranya melalui keikutsertaan dalam Sistem Informasi Debitur (SID) untuk mengetahui profile debitur (peminjam) melalui data Bank Indonesia merupakan bukti keseriusan manajemen dalam mengembangkan Pegadaian menjadi lembaga keuangan yang profesional dan dekat di hati masyarakat kecil. Selain itu, seiring dengan komitmen Pegadaian dalam memberikan kredit pembiayaan UMKM maka Pegadaian senantiasa mencari dana segar melalui pinjaman perbankan, menerbitkan obligasi maupun pinjaman Surat Utang Negara (SUN). Pada semester II Tahun 2010, Pegadaian telah merencanakan untuk menerbitkan obligasi sebesar Rp 2 triliun untuk mencapai target omzet sebesar Rp 75.5 triliun pada tahun 2010. Rencana tersebut tentu bukan hal sulit apabila melihat penghargaan yang diraih Pegadaian dalam Pefindo Award 2010 untuk kategori emiten penerbit obligasi konvensional terbaik. Slogan “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah” dari Pegadaian telah menjadi dasar dalam memberikan pelayanan kepada segmen pasar terbesar mereka yang terdiri dari masyarakat kecil dan tentu saja tidak membuat Pegadaian menutup diri terhadap perubahan lingkungan bisnis, melainkan terus melakukan penyesuaian dan pengembangan bisnis mereka tanpa melupakan segmen pasar mereka.

24
Agu
10

Dirgahayu 65 tahun Indonesiaku

Perayaan 17an tahun ini terasa sepi dari hiruk pikuk lomba dan acara lainnya dalam menyambut HUT Indonesia ke-65. Namun, hal ini tidak membuat kami sebagai bagian generasi muda Indonesia berpangku tangan menjadi penonton saja. Kami ingin mempersembahkan buah pemikiran kami atas masalah korupsi yang menghiasi kemerdekaan Indonesia ke-65. Simak beritanya di http://suarapartai.com/2010/08/e-tabloid-suara-partai-agustus-2010

Berita tentang politik tanah air yang dikemas dengan ringan dapat diakses melalui
http://suarapartai.com/
FB : suarapartai

Selamat HUT ke 65 Indonesiaku…

30
Jun
10

Sisi gelap manusia

Manusia memiliki sisi gelap yang seringkali tidak disadari sepenuhnya oleh dirinya sendiri. Mereka seringkali melakukan kesalahan dan dosa yang sama setelah mereka “bertobat” dengan berurai air mata dihadapan Pendeta. Namun, sebagian dari mereka tidak tahu apa yang mendorong mereka untuk kembali melakukan dosa yang sama setelah “bertobat”. Sementara yang lainnya masih berusaha untuk tetap “melawan” sisi gelap mereka dengan kekuatan mereka sendiri. Fenomena dejavu kembali mereka rasakan saat dosa itu terjadi. Pelan namun pasti, pada akhirnya mereka lelah dengan perasaan mereka yang didera terus-menerus dengan dakwaan bahwa mereka memang ditakdirkan hidup dalam dosa dan dosa adalah takdir hidup mereka. Begitu juga dengan mereka yang telah mati-matian berjuang melawan sisi gelapnya, hingga sebagian besar dari mereka akhirnya juga larut dengan “kekalahan” untuk selanjutnya “menikmati” kembali dosa yang pernah mati-matian mereka lawan sebelumnya. Tanpa sanggup lagi bermimpi menggapai hidup yang terlepas dari sisi gelapnya dan semakin terperosok lebih dalam lagi dengan dosa-dosa yang pernah mereka lakukan sebelumnya

Sejarah nenek moyang kita mencatat bahwa pada awalnya manusia jatuh dalam dosa karena perbuatan Adam dan Hawa. Seperti telah diwariskan oleh nenek moyang manusia, manusia sekarang enggan untuk benar-benar jujur mengakui dosa yang telah mereka lakukan bahkan dihadapan Tuhan. Apalagi dihadapan sesamanya yang tidak pernah tahu apa isi hati manusia sebenarnya. Manusia berusaha untuk bertobat dengan pengertian mereka sendiri, bahwa bertobat itu bisa dilakukan dengan kekuatan mereka sendiri dengan mengabaikan kenyataan bahwa mereka punya sisi gelap yang tidak bisa mereka lawan dengan kekuatan sendiri. Sisi gelap itu adalah karakter negatif yang telah menyatu dengan diri manusia dan tidak bisa diubahkan dalam waktu semalam. Karakter negatif itu ibarat akar yang telah sedemikian kuatnya membentuk pola pikir dan sifat manusia. Hanya proses waktu yang bisa menguji apakah manusia benar-benar telah bertobat dan mau diubah bukan sekedar mengubah karakter negatifnya dengan pengertian mereka sendiri. Manusia tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri untuk mengubah karakter negatifnya. Manusia butuh kekuatan dari luar dirinya yang lebih berkuasa sehingga karakter negatifnya mampu diubahkan. Kekuatan itu bukan dari manusia atau benda-benda yang dianggap punya “kuasa.”

Karakter Yesus yang penuh kasih menjadi bukti bahwa didalam Dia maka manusia dapat diubahkan karakter negatifnya. Manusia tidak bisa mengubah karakter negatifnya dengan kemampuan sendiri. Dengan mengijinkan Yesus masuk ke dalam hatinya, maka manusia dapat merasakan karakter Yesus yang penuh kasih didalam diri mereka yang menggantikan karakter lama mereka. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan bagimu (Mat. 11 : 28). Yesus tahu bahwa manusia tidak bisa mengubahkan karakter negatif dengan kemampuan mereka sendiri, oleh karena itu Dia mengundang manusia untuk mau mengijinkan Yesus mengubah karakter negatif mereka. Namun, proses pertobatan tidak hanya berhenti pada tahap mengijinkan Yesus masuk dalam hati kita. Tahap selanjutnya adalah kita harus mengenal pribadi Yesus melalui proses yang terus menerus, dimana kita juga dituntut untuk semakin dewasa dalam iman. Semakin dekat kepada Yesus dengan membangun hubungan pribadi yang melibatkan seluruh akal budi dan iman kita. Ibarat seseorang yang sedang dalam perjalanan ke suatu tempat, maka dia harus memperhatikan arah kendaraan yang dia tumpangi apakah masih di jalan yang benar. Orang akan selalu fokus kedepan melihat situasi yang ada di hadapannya hingga akhir tujuannya tiba. Sudahkah kita mengijinkan Yesus Kristus mengubahkan karakter negatif kita ? dan Sudahkah kita membangun hubungan pribadi dengan Nya yang semakin intim dan akrab agar kita semakin mengerti karakter Dia yang penuh kasih ?

Tuhan Yesus memberkati kita semua

Salam

Penulis
note : tulisan ini saya buat juga di blok GKJ Kudus

23
Nov
07

kepedulian kita….

Biola tak berdawai “Kami melihat dunia dengan cara lain, menghayati dan mengalami dunia dengan cara yang sama sekali lain, namun itu tiada berarti kita harus tetap selalu saling mengerti – bila tubuh dan otak kami tiada mampu berbahasa, tidaklah berarti kami tiada berjiwa dan berhati sama sekali.

Bukankah sudah berkali-kali kukatakan betapa cinta telah menghidupkan kami…..(Biola Tak Berdawai, Seno GA., hlm. 197)”

Tulisan diatas adalah percakapan imajiner seorang anak tuna daksa dengan dirinya sendiri yang coba ditangkap oleh Seno Gumira Ajidarma dalam novel karangannya (Biola tak Berdawai). Tuna daksa adalah keberadaan seorang manusia yang tidak memiliki tangan dan kaki. Ungkapan hati tersebut coba menggambarkan bahwa anak tuna daksa juga ”seseorang” bukan ”sesuatu.” Mereka memiliki perasaan dan pikiran yang tidak terselami oleh orang-orang yang merasa dirinya normal. Hanya cinta dan perhatian dari kita yang bisa menjadi bahasa sederhana yang bisa dimengerti mereka. Cinta dan perhatian tanpa syarat menjadi alat untuk berkomunikasi dengan mereka. Karena manusia tuna daksa pun juga bisa berprestasi melebihi manusia normal pada umumnya (Nick Vujicic).

Bagian ini semakin mengingatkan saya tentang satu hal yang kadang kita anggap kurang penting. Bagian itu adalah memahami orang lain bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri. Seringkali kita terjebak dengan perangkat atau nilai-nilai yang ada pada diri kita untuk memahami dan menilai seseorang, akibatnya dengan mudah kita menghakimi orang dengan sudut pandang kita yang sempit. Stigma ”aneh” atau ”tidak normal” dengan gampang sekali kita keluarkan untuk menghakimi saudara kita, tanpa mau memahami kondisi saudara kita sebenarnya. Kita terlalu asyik dengan ”kondisi normal” yang ada dalam diri kita sendiri tanpa mau berusaha memahami apa yang menjadi beban saudara kita.

Keberhasilan kita tidak diukur hanya dengan prestasi yang kita capai dari ambisi pribadi, melainkan dengan kepedulian kita terhadap sesama pada saat kita berproses mencapai tujuan hidup kita. Menjadi orang peduli tidak berarti kita harus menunggu sampai kita ber-ada dan memiliki kekuasaan. Menjadi orang peduli adalah memberikan hati kita dan belajar memahami apa yang menjadi beban saudara kita. Menjadi orang peduli selalu diawali dengan kata …”apa yang bisa aku bantu untuk meringankan bebanmu, saudaraku?” bukan dengan kata-kata pongah dan menyudutkan. Menjadi orang peduli bukan berarti kalau kita ada waktu, yakinlah waktu sebenarnya tak akan habis apabila kita mau peduli terhadap sesama karena itulah yang aku yakini menjadi tujuan hidup kita di dunia. Proficiat