23
Nov
07

kepedulian kita….

Biola tak berdawai “Kami melihat dunia dengan cara lain, menghayati dan mengalami dunia dengan cara yang sama sekali lain, namun itu tiada berarti kita harus tetap selalu saling mengerti – bila tubuh dan otak kami tiada mampu berbahasa, tidaklah berarti kami tiada berjiwa dan berhati sama sekali.

Bukankah sudah berkali-kali kukatakan betapa cinta telah menghidupkan kami…..(Biola Tak Berdawai, Seno GA., hlm. 197)”

Tulisan diatas adalah percakapan imajiner seorang anak tuna daksa dengan dirinya sendiri yang coba ditangkap oleh Seno Gumira Ajidarma dalam novel karangannya (Biola tak Berdawai). Tuna daksa adalah keberadaan seorang manusia yang tidak memiliki tangan dan kaki. Ungkapan hati tersebut coba menggambarkan bahwa anak tuna daksa juga ”seseorang” bukan ”sesuatu.” Mereka memiliki perasaan dan pikiran yang tidak terselami oleh orang-orang yang merasa dirinya normal. Hanya cinta dan perhatian dari kita yang bisa menjadi bahasa sederhana yang bisa dimengerti mereka. Cinta dan perhatian tanpa syarat menjadi alat untuk berkomunikasi dengan mereka. Karena manusia tuna daksa pun juga bisa berprestasi melebihi manusia normal pada umumnya (Nick Vujicic).

Bagian ini semakin mengingatkan saya tentang satu hal yang kadang kita anggap kurang penting. Bagian itu adalah memahami orang lain bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri. Seringkali kita terjebak dengan perangkat atau nilai-nilai yang ada pada diri kita untuk memahami dan menilai seseorang, akibatnya dengan mudah kita menghakimi orang dengan sudut pandang kita yang sempit. Stigma ”aneh” atau ”tidak normal” dengan gampang sekali kita keluarkan untuk menghakimi saudara kita, tanpa mau memahami kondisi saudara kita sebenarnya. Kita terlalu asyik dengan ”kondisi normal” yang ada dalam diri kita sendiri tanpa mau berusaha memahami apa yang menjadi beban saudara kita.

Keberhasilan kita tidak diukur hanya dengan prestasi yang kita capai dari ambisi pribadi, melainkan dengan kepedulian kita terhadap sesama pada saat kita berproses mencapai tujuan hidup kita. Menjadi orang peduli tidak berarti kita harus menunggu sampai kita ber-ada dan memiliki kekuasaan. Menjadi orang peduli adalah memberikan hati kita dan belajar memahami apa yang menjadi beban saudara kita. Menjadi orang peduli selalu diawali dengan kata …”apa yang bisa aku bantu untuk meringankan bebanmu, saudaraku?” bukan dengan kata-kata pongah dan menyudutkan. Menjadi orang peduli bukan berarti kalau kita ada waktu, yakinlah waktu sebenarnya tak akan habis apabila kita mau peduli terhadap sesama karena itulah yang aku yakini menjadi tujuan hidup kita di dunia. Proficiat


3 Responses to “kepedulian kita….”


  1. Februari 14, 2008 pukul 6:42 am

    Dengan membuat orang lain senang karena kita, begitukah?

    Apa kabar? [Koq ngga di-update2?]

  2. 2 silvano2
    Februari 16, 2008 pukul 5:05 am

    Hai Murni,
    thanks buat komentar nya. ak lagi sibuk KP and thesis jadi jarang ada waktu untuk update blog.

    Jaga kesehatan ya…

    Salah satu hal yang bisa kita lakukan bisa seperti itu, tapi yang pasti dengan membuat orang lain menyadari bahwa mereka adalah ciptaan_Tuhan yang sempurna apapun kondisi mereka sekarang dan mereka punya Tuhan Yesus untuk bersandar. GBU

  3. November 15, 2008 pukul 3:18 am

    setuju, seseorang baru pantas dikatakan berhasil jika dia sudah bisa berbuat yangbermanfaat bagi sesama, juga bagi orang-orang disekitarnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: