20
Sep
10

PEGADAIAN DI TENGAH PERUBAHAN LINGKUNGAN BISNIS

Sebagian besar masyarakat di Indonesia tentu sudah akrab dengan jasa gadai yang dimiliki oleh PERUM Pegadaian. Biaya bunga pinjaman yang rendah dan proses pencairan uang yang cepat menjadikan Pegadaian sebagai pilihan utama masyarakat untuk memperoleh dana tunai. Biaya bunga kredit yang hanya berkisar 1.75% – 2.5 % per bulan tentu lebih kecil dibandingkan apabila masyarakat meminjam ke bank. Bunga bank sendiri saat ini bisa mencapai 3.25-3.75 % per bulannya. Apalagi jika meminjam ke rentenir yang mengenakan bunga pinjaman yang jauh lebih besar dari total pinjaman itu sendiri. Selain itu, proses permintaan kredit untuk mendapatkan dana tunai di Pegadaian bisa dilayani dalam waktu 15 menit tanpa proses yang bertele-tele seperti di lembaga keuangan lainnya. Menurut Direktur Utama Perum Pegadaian, Chandra Purnama, bahwa semua kelebihan tersebut sejalan dengan misi Pegadaian yaitu membuat orang senang, bukan sekedar membuat bisnis serta slogan Pegadaian yang berbunyi “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”. Dalam salah satu wawancara dengan media massa diluar negeri, Chandra Purnama berbagi cerita bahwa dia pernah melihat sendiri seorang ibu yang membawa rantang datang ke Pegadaian untuk mendapatkan uang pinjaman sebesar Rp 30 ribu dengan menjaminkan rantangnya dengan nilai taksiran Rp 50 ribu. Bayangkan jika ibu ini meminjam uang ke rentenir yang akan mengenakan bunga pinjaman yang tinggi atas pinjamannya. Kondisi inilah yang membuat Pegadaian memiliki keunikan tersendiri dalam usahanya dan menjadikan Pegadaian begitu dekat dengan masyarakat.
Pegadaian saat ini telah berkembang pesat sebagai lembaga di bidang keuangan yang memiliki visi dan misi bagaimana masyarakat mendapatkan perlakuan dan kesempatan yang adil dalam perekonomian. Sampai dengan sekarang, Pegadaian telah memiliki +/- 4.750 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia dengan total aset sebesar +/- Rp 17 triliun. Hal ini telah mendorong laba bersih Pegadaian semester pertama tahun 2010 naik 42.9% menjadi Rp 591.3 juta dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2009 yang hanya sebesar Rp 413.7 juta. Bahkan dari data akhir menyebutkan bahwa Pegadaian telah menjadi penyalur terbesar Kredit Usaha Mikro dan Kecil (KUMK) diantara 20 bank dan 2 lembaga keuangan pelaksana dengan total kredit yang disalurkan oleh Pegadaian sebesar Rp 1.14 triliun. Semua prestasi yang telah diraih Pegadaian hingga saat ini menempuh perjalanan yang panjang sejak pertama kali di dirikan pada tahun 1901 di Sukabumi, Jawa Barat. Kunci keberhasilan Pegadaian adalah kemampuan beradaptasi melalui diversifikasi produk terhadap lingkungan bisnis yang terus berkembang sejalan dengan salah satu misi mereka ikut membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah melalui kegiatan utama berupa penyaluran kredit gadai dan usaha lain yang menguntungkan.
Produk gadai konvensional merupakan produk utama yang menjadi andalan dari Pegadaian. Melalui produk ini diharapkan dapat membantu rakyat kecil yang tidak memiliki akses ke dalam perbankan sehingga terhindar dari praktek rentenir. Pemberian pinjaman mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 200 juta dengan jaminan berupa benda bergerak, perhiasan, barang elektronik, kendaraan dan alat rumah tangga lainnya. Pinjaman tersebut dapat diangsur dalam pelunasannya dan memiliki jangka waktu maksimum 4 bulan (120 hari) dan dapat diperpanjang dengan membayar sewa modal dan biaya administrasi saja. Biaya sewa modal berkisar antara 1.5% – 2% per bulannya dan biaya administrasi untuk pencairan kredit baru sebesar 1%. Sistem gadai inilah yang membantu masyarakat kelas menengah kebawah untuk memperoleh solusi atas permasalahan kebutuhan dana mendadak yang harus mereka hadapi.
Diversifikasi produk yang dilakukan Pegadaian hingga saat ini menjadikannya mampu untuk terus berkembang. Saat ini Pegadaian tidak hanya identik dengan masyarakat kecil yang mengalami kesulitan keuangan. Pegadaian juga melebarkan sayapnya ke arah pasar modal dengan meluncurkan produk gadai saham pada tahun 2007 untuk menjangkau para investor saham yang memiliki saham-saham unggulan (blue chips) untuk digadaikan. Investor yang membutuhkan dana segar tidak perlu melepaskan saham blue chips yang mereka miliki, mereka cukup menggadaikan sahamnya ke Pegadaian sebagai jaminan. Saham yang digadaikan harus memiliki nilai 2x lipat dari jumlah pinjaman sehingga investor memiliki dana segar untuk berinvetasi di pasar modal untuk membeli saham lainnya. Saham yang digadaikan akan dimutasikan dari rekening Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) ke rekening Pegadaian di lembaga yang sama. Hal ini tentu akan menguntungkan bagi investor di tengah kondisi pasar modal di Indonesia yang terus semakin membaik saat ini karena mereka punya dana segar untuk membeli saham-saham lainnya yang mampu memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingkan bunga pinjaman di Pegadaian. Namun, sebaliknya jika harga saham turun maka investor yang telah menggadaikan sahamnya harus menambah saham yang digadaikan agar tetap bernilai 2x lipat dari pinjaman yang telah diterima.
Diversifikasi produk Pegadaian dengan basis hukum gadai tidak hanya di bidang pasar modal saja, tapi juga menyentuh pada segmen pasar dengan latar belakang kepercayaan tertentu. Gadai syariah adalah produk baru yang diluncurkan Pegadaian di tengah masyarakat yang menjunjung prinsip-prinsip syariah dalam melakukan transaksinya. Peluncuran produk gadai syariah juga diikuti dengan rencana penambahan kantor cabang gadai syariah hingga 500 cabang pada tahun 2010. Kondisi ini yang mendorong peningkatan omzet gadai syariah hingga 70% dibandingkan tahun lalu. Target Pegadaian untuk omzet gadai syariah pada tahun 2010 sendiri sebesar Rp 4.4 triliun. Salah satu produk yang menggunakan prinsip syariah adalah Ar-Rahn. Rahn adalah produk jasa gadai yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah, dimana nasabah hanya dipungut biaya administrasi dan Ijaroh (biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan). Dalam prinsip syariah tidak mengenal konsep bunga pinjaman seperti gadai konvensional, oleh karena itu peminjam dikenakan Ijaroh dengan perhitungan yang berbeda dengan bunga pinjaman gadai konvensional.
Untuk kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga diberikan fasilitas pendanaan oleh Pegadaian melalui produk KREASI (Kredit Angsuran Sistem Fidusia) dan KRASIDA (Kredit Angsuran Sistem Gadai). Kedua produk ini memiliki tujuan sama untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pelunasan kredit untuk kedua produk ini sangat menguntungkan pengusaha kecil karena mereka dapat menentukan jangka waktu peminjaman (12 bulan, 24 bulan atau 36 bulan) dan biaya sewa modal yang murah (0.9% per bulan flat). Selain itu, pelunasan dapat dilakukan dengan cara mengangsur setiap bulan dengan jumlah angsuran tetap dan apabila pelunasan sekaligus dilakukan sewaktu-waktu akan diberikan diskon sewa modal. Fasilitas peminjaman tersebut semakin lengkap dengan persyaratan yang diwajibkan oleh Pegadaian untuk pengajuan pinjaman tersebut hanya agunan, foto copi identitas diri dan surat ijin usaha atau surat keterangan domisili. Pinjaman KREASI mensyaratkan agunan berupa dokumen kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB asli, foto copi STNK, faktur pembelian) dan persyaratan tambahan berupa usaha yang didanai harus sudah berjalan minimal 1 (satu) tahun. Sedangkan pinjaman KRASIDA hanya mensyaratkan agunan berupa perhiasan emas. Semua kemudahan pinjaman untuk kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) akan mendorong para pelaku usaha UMKM untuk mengembangkan usahanya yang telah terbukti memiliki ketahanan dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi.
Produk Pegadaian juga menjangkau hingga kelompok usaha rumah tangga melalui produk KRISTA. Produk ini memiliki keunikan dalam hal agunan yang bukan menjadi persyaratan mutlak. Persyaratan yang diwajibkan adalah kredit ini diberikan kepada kelompok mikro (pedagang kecil/tukang sayur/K5), usaha yang didanai sudah berjalan minimal 6 bulan, menerapkan sistem tanggung renteng pada anggotanya, tidak sedang memiliki hutang modal kerja kepada lembaga keuangan lainnya, domisili yang jelas yang ditunjukkan dengan KTP dan KK. Apabila semua persyaratan diatas sudah terpenuhi, maka pelaku usaha mikro dapat memperoleh kredit KRISTA berupa pinjaman hingga 3 juta rupiah, biaya sewa modal hanya 1% per bulan, angsuran pinjaman tetap dengan jangka waktu hingga 36 bulan. Kemudahan yang diberikan Pegadaian untuk kelompok usaha rumah tangga tentunya sangat membantu mereka yang tidak bisa dilayani oleh lembaga keuangan lainnya karena rumitnya persyaratan administratif yang diwajibkan dan tingginya bunga pinjaman yang harus mereka kembalikan.
Pegadaian juga memberikan fasilitas non-kredit kepada para nasabahnya melalui produk MULIA, KUCICA dan persewaan gedung. MULIA adalah produk investasi logam mulia berupa emas untuk berbagai macam tujuan seperti menabung untuk ibadah haji, mempersiapkan dana pendidikan anak di masa datang, mempersiapkan dana untuk memiliki tempat tinggal dan kendaraan dan mempersiapkan aset yang likuid untuk memenuhi kebutuhan dana yang mendesak lainnya. KUCICA adalah produk pengiriman uang tanpa harus memiliki rekening bank dari dalam dan luar negeri yang bekerjasama dengan Western Union. Produk KUCICA dapat dilayani oleh semua kantor cabang Pegadaian di seluruh Indonesia dengan standard layanan yang berkualitas dalam hal keamanan, operasi dan layanan pelanggan serta biaya yang cukup kompetitif. Produk persewaan gedung adalah produk yang menawarkan persewaan gedung serbaguna untuk keperluan pernikahan, seminar, konferensi dan meeting. Fasilitas persewaan gedung ini hanya dapat dinikmati di Jakarta Pusat, Surakarta (Jawa Tengah) dan Sidoarjo (Jawa Timur).
Semua produk yang dimiliki oleh Pegadaian menunjukkan bahwa Pegadaian sangat peduli dengan kebutuhan masyarakat kecil yang juga diikuti dengan pengembangan internal organisasi Pegadaian. Rencana strategis Pegadaian dalam memperbaiki proses internal sistem IT, diantaranya melalui keikutsertaan dalam Sistem Informasi Debitur (SID) untuk mengetahui profile debitur (peminjam) melalui data Bank Indonesia merupakan bukti keseriusan manajemen dalam mengembangkan Pegadaian menjadi lembaga keuangan yang profesional dan dekat di hati masyarakat kecil. Selain itu, seiring dengan komitmen Pegadaian dalam memberikan kredit pembiayaan UMKM maka Pegadaian senantiasa mencari dana segar melalui pinjaman perbankan, menerbitkan obligasi maupun pinjaman Surat Utang Negara (SUN). Pada semester II Tahun 2010, Pegadaian telah merencanakan untuk menerbitkan obligasi sebesar Rp 2 triliun untuk mencapai target omzet sebesar Rp 75.5 triliun pada tahun 2010. Rencana tersebut tentu bukan hal sulit apabila melihat penghargaan yang diraih Pegadaian dalam Pefindo Award 2010 untuk kategori emiten penerbit obligasi konvensional terbaik. Slogan “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah” dari Pegadaian telah menjadi dasar dalam memberikan pelayanan kepada segmen pasar terbesar mereka yang terdiri dari masyarakat kecil dan tentu saja tidak membuat Pegadaian menutup diri terhadap perubahan lingkungan bisnis, melainkan terus melakukan penyesuaian dan pengembangan bisnis mereka tanpa melupakan segmen pasar mereka.


0 Responses to “PEGADAIAN DI TENGAH PERUBAHAN LINGKUNGAN BISNIS”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: